Please wait...

INSOMNIA GANGGUAN TIDUR SEJUTA UMAT Dr. dr. Bambang Hasta Yoga, Sp.Kj

Juli 3, 2019 0

Insomnia adalah gangguan tidur yang menyebabkan penderitanya sulit tidur, atau tidak cukup tidur meskipun terdapat cukup waktu melakukan tidur. Gangguan tadi menyebabkan kondisi penderita tidak prima untuk melakukan aktifitas rutinnya di keesokan harinya. Kualitas dan kuantitas tidur mempengaruhi kualitas hidup serta kesehatan seseorang.
Pada umumnya, dalam sehari pada orang dewasa dibutuhkan waktu 8 jam untuk tidur guna menjaga kondisi tubuh tetap sehat. Pembagian insomnia ada 2 tipe yaitu insomnia primer dan sekunder. Insomnia primer adalah insomnia yang tidak terkait kondisi kesehatan fisik. Insomnia sekunder adalah insomnia yang disebabkan oleh gangguan kesehatan lain. Ada juga yang membagi insomnia berdasarkan gejalanya, yaitu :
1. Early insomnia : bila penderita sudah berada ditempat tidur tetapi sulit masuk tidur
2. Breaking insomnia : bila penderita selama tidur sering terjaga dari tidurnya
3. Late insomnia : bila penderita terbangun di dini hari dan tidak bias tidur lagi
Gejala insomnia cukup beragam, dan dapat berlangsung dalam hitungan bulan bahkan tahun. Pada umumnya, penderita insomnia mengalami sulit tidur atau sering terbangun di malam hari, bangun terlalu dini di pagi hari, dan tidur yang terasa tidak nyenyak atau tidak cukup. Sejumlah gejala tersebut dapat memicu gejala lain, seperti mengantuk atau lelah di siang hari, mudah marah dan depresi, serta sulit focus dalam beraktifitas.
Insomnia dapat berlangsung singkat (akut), atau terjadi dalam jangka panjang (kronis). Insomnia akut berlangsung satu malam hingga beberapa minggu. Sedangkan insomnia kronis terjadi sedikitnya 3 malam dalam sepekan, dan berlangsung minimal satu bulan. Kualitas dan kuantitas tidur yang cukup, sangat penting bagi kesehatan fisik serta mental. Oleh karena itu, kualitas hidup penderita insomnia umumnya menurun, disebabkan oleh kurangnya konsentrasi saat beraktivitas. Risiko kecelakaan juga meningkat, akibat kurang fokus dalam berkendara. Selain itu, insomnia juga dapat memengaruhi daya ingat dan gairah seks penderitanya. Komplikasi lain yang dapat terjadi pada penderita insomnia antara lain : gangguan fisik dan gangguan mental (depresi, frustasi, dan kecemasan). Penyebab insomnia dapat disebabkan oleh banyak hal. Salah satu penyebab insomnia adalah hal yang memicu stress. Misalnya karena terlalu memikirkan pekerjaan, kondisi kesehatan, atau keuangan. Stress juga bisa disebabkan oleh peristiwa duka, seperti sakit atau kematian yang menimpa pasangan maupun keluarga dekat.
Hal lain yang dapat menyebabkan insomnia meliputi : gangguan psikiatris antara lain; gangguan kecemasan, seperti panik dan gangguan stress pasca trauma (PTSD), gangguan psikosis, misalnya skizofrenia, gangguan suasana hati, seperti depresi atau gangguan bipolar. Gangguan kesehatan diantaranya; gangguan hormon, misalnya hipertiroidisme, gangguan jantung seperti gagal jantung dan angina, gangguan otot dan sendi, misalnya radang sendi (artritis), gangguan pada organ kemih seperti pembesaran prostat atau inkontinensia urine, gangguan pencernaan misalnya GERD, gangguan pernafasan seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronis, diabetes, dan kanker.
Gaya hidup tak sehat seperti merokok, menyalahgunakan NAPZA, dan mengonsumsi minuman beralkohol atau berkafein secara berlebihan. Obat-obatan, meliputi : obat antiinflamasi nonsteroid, seperti ibuprofen, obat asma seperti salbutamol, salmeterol, dan teofilin, obat anti kejang, obat stimulan misalnya metylphenidate untuk menangani gangguan hiperaktif (ADHD), obat tekanan darah tinggi seperti penghambat beta. Faktor lingkungan seperti suara bising, lampu yang terlalu terang, serta suhu yang terlalu dingin atau terlalu panas, sehingga dapat mengganggu tidur.
Faktor risiko insomnia walaupun tiap orang dapat mengalami insomnia, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya insomnia. Diantaranya adalah berjenis kelamin wanita, perubahan hormon selama menstruasi dan dalam masa menopause dapat mengganggu pola tidur. Selain itu, insomnia juga dapat terjadi pada masa kehamilan. Usia diatas 60 tahun kondisi kesehatan dan pola tidur berubah seiring usia, dan meningkatkan risiko insomnia. Kondisi medis, risiko insomnia semakin besar pada seseorang dengan gangguan kesehatan, baik fisik maupun mental. Perubahan jadwal aktivitas. Faktor ini dapat mengganggu pola tidur misalnya karena pergantian jadwal dalam bekerja. Stres, stress ringan dapat menyebabkan insomnia sementara. Semakin berat dan lama stress yang dirasakan, risiko terjadinya insomnia kronis akan makin tinggi.
Diagnosis insomnia untuk menentukan diagnosis insomnia diperlukan riwayat kondisi medis yang dialami , kondisi lingkungan sekitar tempat tinggal, kondisi emosional dan psikologis, riwayat atau jadwal tidur pasien selama ini.
Para ahli menentukan sejumlah kriteria untuk mendiagnosis insomnia diantaranya penderita mengalami ketidakpuasan dalam tidur, baik secara kualitas maupun kuantitas. Kondisi ini ditandai oleh satu atau lebih gejala berikut : kesulitan saat hendak tidur, sering terbangun ditengan tidur, atau sulit melanjutkan tidur setelah terbangun, bangun terlalu awal dan tidak bisa kembali tidur.
Pengobatan insomnia langkah pertama pengobatan insomnia mencari tahu dan mengatasi akar penyebabnya. Pasien diterapi dengan obat-obatann, atau kombinasi secara obat dan CBT-I. CBT-I bertujuan membantu pasien insomnia mengubah pikiran dan perilaku negatif yang membuat pasien susah tidur. Terapi ini adalah pilihan utama untuk mengobati pasien insomnia karena lebih efektif dibanding obat-obatan. Sejumlah metode dalam CBT-I antara lain; pembatasan waktu tidur. Pasien akan diminta menghindari tidur siang, agar waktu tidur di malam hari dapat meningkat secara bertahap. Teknik relaksasi. Pasien akan diajari cara mengontrol nafas guna mengurangi kecemasan tidak bisa tidur. Terapi kontrol stimulus, pasien akan dilatih untuk hanya menggunakan kamar tidur untuk tidur atau berhubungan seks. Pasien juga dianjurkan meninggalkan kamar tidur bila tidak bisa tidur dalam 20 menit, dan hanya kembali bila sudah mengantuk. Paradoxical intention, terapi ini bertujuan mengurangi rasa cemas dan khawatir tidak bisa tidur, justru dengan cara tetap terbangun ditempat tidur dan tidak berharap untuk tertidur. Fototerapi, fototerapi bertujuan menormalkan jam tidur, pada pasien yang tidur terlalu cepat dimalam hari, dan bangun terlalu dini di pagi hari. Dalam fototerapi, paisen akan disinaro dengan sinar UV selama 30-40 menit setelah bangun tidur. Metode lain untuk mengatasi insomnia adalah dengan obat tidur.
Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah insomnia, diantaranya adalah dengan menjaga konsistensi waktu tidur setiap hari, termasuk hari libur. Langkah pencegahan lainnya adalah hindari banyak makan dan minum sebelum tidur, hindari atau batasi konsumsi minuman beralkohol dan berkafein, usahakan aktif di siang hari agar terhindar dari tidur siang, jangan merokok, jaga kenyamanan kamar tidur, dan usahakan hanya masuk ke dalamnya bila ingin tidur, periksa obat-obatan yang dikonsumsi, apakah kandungannya menyebabkan sulit tidur.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Rumah Sakit UII

Rumah Sakit UII adalah rumah sakit di Yogyakarta yang mempunyai layanan yang berfokus pada pasien, sehingga pasien adalah yang utama.

Jl. Srandakan Km. 5,5, Pandak, Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta 55761

Jam Operasional

  • IGD Buka 24 Jam

Pelayanan Rawat Jalan

  • Senin - Minggu, Jam 08.00 - 21.00 WIB

Kontak

  • (0274) 2812-999
  • Email : contact@rsuii.co.id

Peta Lokasi

Copyright © Rumah Sakit UII Yogyakarta